Eder Senang Tinggal Di Inter Milan

Eder

Sejumlah media mengabarkan bahwa Eder akan hengkang dari I Nerazzurri pada bursa musim dingin yang sudah resmi dibuka pada bulan Januari ini. Namun hal tersebut langsung ditepis oleh sang pemain yang menyatakan bahwa dirinya merasa senang tinggal di Inter Milan dan tak ada niatan untuk hengkang. Walaupun di dunia sepakbola tidak ada yang mengetahui secara pasti.

Eder
Eder merasa bahagia tinggal di Inter Milan

Pemain yang berposisi sebagai striker itu ditransfer oleh Internazionale dari Sampdoria pada bursa musim dingin lalu. Tetapi, dirinya sudah langsung dikabarkan akan berpindah klub, usai Eder kurang mampu bersaing di lini depan Inter. Ia hanya berhasil mencetak satu gol saja di ajang Serie A pada musim ini.

“Tentu saya mendengar mengenai kabar yang mengaitkan diri saya dengan klub lain pada Januari ini. Mengenai hal itu, saya mempercayai sepenuhnya oleh agen saya yang telah bekerja bersama saya sejak lama. Saya mempercayakan Dia untuk beberapa hal,”

“Namun, saya tak ingin adanya perubahan pada bursa musim dingin ini. Tapi, mari kita tunggu apa yang akan terjadi pada akhirnya. Pasti, ada tak akan mengetahui mengenai masa depan Anda. Begitu juga yang terjadi di dunia sepakbola. Semua hanya bisa memprediksinya tanpa mengetahui pasti. Mari kita menunggu hingga akhir Januari, semuanya dapat berubah. Tapi yang pasti, saya merasa senang tinggal di Inter dan akan tetap fokus di setiap pertandingan,” ungkap Eder.

Icardi Ungkap Pioli Ubah Mentalitas Inter Milan

Kabar kepergian Eder dari skuat tim pada bursa Januari ini tak membuat Inter Milan terbebani. Bintang mereka, Mauro Icardi justru menyatakan bahwa kini mentalitas tim sudah berubah sejak jabatan pelatih dipegang oleh Stefano Pioli yang sebelumnya di tangani oleh Frank de Boer.

Mauro Icardi
Mauro Icardi mengungkapkan bahwa mentalitas tim kembali bergairah

De Boer menjabat pelatih Internazionale sejak musim panas lalu untuk menggantikan posisi Roberto Mancini yang tak mampu mengantarkan tim meraih trofi. Tetapi, manajer asal Belanda itu hanya mampu bertahan hingga tanggal 1 November 2016 lalu, menyusul penampilan tim yang sangat mengecewakan pada awal musim 2016/2017.

Sehingga, posisi De Boer digantikan oleh Stefano Pioli. Ditangan Pioli, Inter Milan mampu kembali bersaing di Serie A. Dari tujuh laga awal, pasukan La Beneamata berhasil meraih lima kemenangan dan membuat posisinya naik ke peringkat ketujuh klasemen sementara Serie A Italia.

“Saat tim berada ditangan De Boer, seolah-olah para pemain tidak memiliki gairah dan terlihat tidak bahagia. Bahkan, saat selebrasi gol saja, seperti biasa saja. Hal ini membuat tim menjadi terpuruk dan tak mampu bersaing di papan klasemen,”

“Kini, situasinya berubah saat Pioli datang. Bahkan, sejumlah pemain yang berada di bangku cadangan saja merasa bahwa mereka berada dalam proyek bersama grup. Pioli telah mengubah mentalitas seluruh pemain. Hasilnya, kami kembali bergairah untuk bermain dan meraih hasil yang maksimal,” ungkap kapten tim Internazionale.

Pioli: Kami Akan Fokus

Pelatih anyar Inter Milan, Stefano Pioli mengungkapkan bahwa saatnya untuk fokus dan bekerja keras. “Kami terus berupaya bermain bagus dan selalu fokus di setiap pertandingan demi meraih kemenangan di setiap minggunya,” ungkap Pioli.

Stefano Pioli
Pelatih baru Inter Milan, Stefano Pioli

Manajer berkebangsaan Italia itu menambahkan, dengan skuat tim yang ada, dirinya percaya bahwa perjuangan untuk meraih gelar juara masih terbuka lebar. Setidaknya, Ia menargetkan mampu membawa I Nerazzurri untuk bermain di Liga Champions musim depan.

“Persaingan gelar juara masih sangat jauh. Kami memiliki pemain yang hebat di dalam skuat. Jadi, kami percaya mampu berbicara banyak dalam pertarungan gelar juara Serie A. Walau pada akhirnya kami tak mampu juara, tetapi setidaknya kami dapat bermain di Liga Champions pada musim baru mendatang,” tutup mantan manajer Lazio.

Fernandinho Dipastikan Absen Empat Laga

Fernandinho

FA selaku induk tertinggi sepakbola Inggris secara resmi menghukum gelandang kreatif milik Manchester City, Fernandinho untuk bermain selama empat laga. Hukuman tersebut menyusul kartu merah yang didapatkan sang pemain ketika melawan Burnley dalam matchday 20 Liga Primer Inggris.

Fernandinho
Fernandinho dipastikan akan absen selama empat laga

Kartu merah yang diberikan oleh pengadil lapangan kala itu, lantaran gelandang asal Brasil tersebut melakukan tekel keras kepada Johann Gudmundsson. Pertandingan yang berlangsung di Etihad Stadium itu sendiri berakhir dengan kedudukan 2-1 untuk keunggulan The Citizens.

Hukuman yang diberikan oleh Federasi Sepakbola Inggris kepada Fernandinho itu bukanlah yang pertama kalinya. Sebelumnya, pemain yang kini sudah berusia 31 tahun itu juga mendapatkan hukuman yang serupa dan harus menepi sekian lama, lantaran terjadi keributan dengan gelandang Chelsea, Cesc Fabregas kala keduanya bertemu di bulan November lalu.

“Fernandinho secara resmi kami hukum untuk tidak bertanding selama empat laga. Menyusul klaim sang pemain yang menyatakan bahwa keputusan wasit kala memimpin laga antara Manchester City melawan Burnley itu keliru sudah ditolak oleh Komisi Regulator Independen di dalam sidang,” demikian bunyi dari pernyataan resmi Federasi Sepakbola Inggris.

Dengan situasi ini, tentu Fernandinho akan melewati sejumlah laga yang krusial. Gelandang berkepala pelontos itu dipastikan tidak akan membela City kala berhadapan dengan West Ham United di babak ketiga Piala FA dan juga dua pertandingan di kancah Liga Inggris kala bersua Tottenham Hotspur dan Everton.

Sagna dan Pep Guardiola Sepakat Tidak Membahas Insiden Fernandinho

Bek kanan Manchester City, Bacary Sagna enggan mengomentari perihal kartu merah yang didapatkan rekan setimnya tersebut dalam laga melawan The Clarets. “Saya tidak akan menjawab pertanyaan mengenai insiden kartu merah itu. Saya lebih fokus pada pertandingan yang pada akhirnya kami mampu memenangkan laga walaupun bermain dengan sepuluh orang,” ungkap Sagna.

Bacary Sagna dan Pep Guardiola
Bacary Sagna dan Pep Guardiola sepakat tidak ingin membahas mengenai insiden kartu merah Fernandinho

Mantan punggawa Arsenal itu menambahkan bahwa pertanyaan mengenai kartu merah Fernandinho lebih pantas ditanyakan oleh wasit. “Saya kira, saya tidak pantas untuk memberikan penilaian mengenai insiden itu. Karena saya bukanlah ahlinya. Tanyakan kepada wasit yang memimpin, karena itu adalah tugasnya,” tutup pemain Prancis itu.

Senada dengan Sagna, pelatih The Citizenz, Pep Guardiola juga tidak ingin membahas mengenai kartu merah yang didapatkan anak asuhnya tersebut. “Mengenai kejadian kartu merah yang didapatkan oleh pemain kami, itu sudah menjadi wewenang wasit. Tentu kami merasa kecewa, tetapi itulah yang terjadi di lapangan. Tak hanya kecewa, kami juga akan kehilangan Dia (Fernandinho) di beberapa laga penting kedepannya,” ungkap Pep.

Mantan manajer Barcelona dan Bayern Munich itu menambahkan, bahwa dirinya tidak mampu mengendalikan keadaan di atas lapangan saat pertandingan dimulai. “Kami tidak bisa mengendalikan berbagai kejadian yang terjadi saat laga sudah dimulai. Kami mencoba untuk bermain sepakbola sebaik mungkin. Dan tentu meraih kemenangan, agar dapat meraih gelar juara di akhir musim. Kami akan terus bekerja keras setiap saatnya,” tutup Guardiola.

Fernandinho Angkat Bicara Mengenai Insiden Kartu Merahnya

Sang pemain, Fernandinho akhirnya angkat bicara mengenai kejadian kartu merah yang didapatkannya ketika pertandingan melawan Burnley pada tengah pekan lalu. “Liga Primer Inggris adalah liga yang terkenal keras. Saya rasa, saya bermain dengan apa yang harus dilakukan. Tak ada niatan untuk mencederai lawan,”

Fernandinho
tekel keras Fernandinho dalam laga Manchester City melawan Burnley

“Saya bermain di posisi gelandang, dimana tugasnya untuk menghentikan aliran bola lawan. Jadi, saya berusaha untuk bermain sebaik mungkin dan membantu tim meraih kemenangan,” ungkap Fernandinho.

Man City Rubah Gaya Permainan

manchester city

Manchester City baru saja memenangkan laga ke-16 pada lanjutan Premier League melawan Watford pada Kamis, 15 Desember 2016. Kemenangan 2-0 ini sangatlah berarti bagi anak asuh dari Pep Guardiola. Pasalnya dalam beberapa hari yang lalu, klub dengan jajaran pemain bintang tersebut sempat di bantai oleh juara bertahan Leicester City dengan skor yang sangat mencolok yaitu 4-2.

Pada kemenangan City kemarin, ternyata ada yang berubah dari gaya permainan dari tim yang memiliki julukan The Sky Blues tersebut. Belajar dari kekalahan memalukan melawan juara bertahan Leicester sepertinya telah dibayar lunas pada laga melawan Watford kemarin.

The Sky Blues tidak lagi bermain dengan gaya menyerang mereka yang cukup frontal. Pola permainan sebelumnya, Yaya Toure CS selalu bermain dengan cara mendorong bola untuk selalu bergulir di depan garis tengah dan memanfaatkan kecepatan kedua pemain sayapnya, yakni David Silva di sisi kanan serta Raheem Sterling yang di paksa bermain pada sisi kiri.

Sterling sendiri sebenarnya memiliki posisi ideal sebagai pemain depan atau penyerang. Karena dinilai memiliki kecepatan untuk menyisir pinggir garis sebelah kiri, maka kejeniusan sang pelatih, Guardiola dirinya dipasang sebagai pemain sayap saat meladeni tim tamu Watford.

Perubahan gaya permainan tersebut ternyata berbuah hasil. Meskipun penguasaan bola sedikit berkurang, setidaknya gawang Man City yang dijaga oleh Cloudio Bravo, tetap perawan sampai akhir pertandingan. Ini adalah Clean Sheet pertamanya setelah meladeni sembilan laga sebelumnya. Perubahan strategi dan gaya permainan yang cenderung sedikit bertahan dinilai sejumlah pemainnya cukup sukses.

“kami tidak masalah jika harus bermain dengan cara menjaga keseimbangan lini tengah, jika dibandingkan dengan keharusan mendorong bola untuk masuk ke kotak pinalti mereka. Sebenarnya cara seperti ini tidak buruk, karena kami melakukan strategi baru yang berjalan dengan baik,” ungkap Kevin De Bruyne.

Perubahan mencolok sangat terlihat jelas ketika pemain tengah Manchester City, yang di komandoi oleh Yaya Toure lebih sedikit turun ke area pertahanan sendiri. Kevin De Bruyne yang biasanya selalu rajin menusuk dari lini tengah mulai terlihat sedikit berhati-hati dalam setiap melakukan manufer-manufernya.

City yang juga memiliki nama julukan sebagai Citizens ini menyadari bahwa kekuatan mereka berada di lini tengah. Beberapa pemain dengan kualitas bagus serta didukung kemampuan pemain dengan kecepatan dalam menusuk dari sisi sayap sepertinya menjadi sebuah kelemahan juga.

“Saya menyadari tim ini memiliki kualita sangat luar biasa, tapi ketika kalian mampu menyadarinya itu, sebaiknya sadari juga jika hal tersebut merupakan bagian dari kelemahan anda. Saat ini saya mengerti bagaimana seharusnya skuad ini bermain dan saya sudah menemukan formula baru untuk meraih angka penuh kedepannya,” tegas Pep Guardiola.

Serangan Balik Jadi Perhatian Khusus

pep guardiola
Pelatih Manchester City, Pep Guardiola

Klub yang didirikan pada tahun 1880 ini ternyata harus mengakui, betapa lemahnya ketika pemain harus melakukan transisi dari menyerang menjadi bertahan dengan cepat. Pada setiap laga-laga yang di lakoni anak asuh Guardiola, mereka selalu saja kebobolan melalui serangan balik cepat oleh lawannya.

Mealawan Leicester beberapa hari lalu menjadi bukti betapa sulitnya mereka menghalau setiap serangan balik kilat yang dilakukan oleh Vardy CS. “Pemain tengah kami terlalu berani mengambil inisiatif serangan secara spartan tanpa memikirkan keseimbangan dalam bermain sepakbola. Itu semua bukanlah salah mereka, tapi kesalahan ini berada di pundak saya sebagai pelatih,” ungkap mantan pelatih Barcelona dan Bayer Munchen itu.

“Kemenangan dua gol melawan Watford, membuat saya berfikir bahwa Liga Inggris sangat berbeda dengan gaya permainan pada Liga Spanyol dan Liga Jerman. Disini kami tidak bisa di tuntut harus selalu memegang bola tapi keseimbangan pada setiap lini menjadi kunci permainan di negara ini,” tambahnya.

Bermain Direct

Aleksandar Kolarov
Pemain bertahan Manchester City, Aleksandar Kolarov

Pemain bertahan seperti Gael Clichy, Aleksandar Kolarov, Nicolas Hernan Otamendi dan Pablo Zabaleta harus rela bermain secara merapat atau berkumpul di dalam kotak pinalti. Bermain direct seperti ini ternyata mampu menjaga keperawanan gawang mereka tetap terjaga sepanjang laga tersebut.

“Saya tidak merasa keberatan jika pelatih harus melakukan direct kami sebagai pemain bertahan untuk memenuhi kotak pinalti, karena itu adalah tugas kami agar penjaga gawang selalu nyaman berada di bawah mistarnya,” jelas Kolarov.

Clichy  sendiri cukup nyaman dengan gaya permaianan baru yang diterapkan oleh Guardiola saat menang melawan Watford. “Bermain direct bukan berarti harus bermain bertahan secara penuh, hal tersebut hanyalah sebagai strategi karena bermain sepakbola tidak harus selalu menyerang. Ada saatnya bermain sedikit bertahan untuk membangun serangan terbaik,” jelasnya.